Simalungun. BongkarKasusNews.com – Di tengah kehebohan masyarakat Simalungun, kejadian aneh namun nyata terjadi di SD 091477 Dolok Marlawan, Kecamatan Jorlang Hataran. Seorang individu bernama Ice M. Siallagan, yang terdaftar sebagai operator sekolah di Dapodik, bisa lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) walaupun tidak pernah menunjukkan kehadirannya di sekolah.
Pada Kamis, 13 Maret 2025, awak media melakukan penelusuran dan mendapati bahwa siswa-siswa serta orang tua siswa, mereka mengaku tidak pernah melihat sosok Ice M. Siallagan di sekolah. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat mengenai keabsahan proses rekrutmen P3K ini. Berdasarkan informasi dari sumber yang enggan disebutkan namanya, situasi ini berhubungan dengan status Ice M. Siallagan sebagai anak dari mantan kepala sekolah SD 091477 Dolok Marlawan, Boru Gultom yang pensiun bulan Desember tahun 2024.
Dari penelusuran lebih lanjut, terungkap bahwa di sekolah tersebut ada dua anak Boru Gultom yang terdaftar: Ice M. Siallagan sebagai operator dan L. br Siallagan sebagai guru. Ironisnya, posisi yang seharusnya dijalankan oleh Ice M. Siallagan dijalankan oleh L. br Siallagan, sehingga memunculkan pertanyaan tentang keberadaan dan tanggung jawab masing-masing dalam menjalankan tugas di sekolah.
Ketika awak media mengunjungi SD 091477 pada hari Kamis, 13 Maret 2025, dan mempertanyakan keberadaan Plt Kepala Sekolah serta operator sekolah kepada seorang guru, Boru Sianturi, jawaban yang diterima tampaknya membingungkan. Keduanya dilaporkan pergi “ke raya” sedangkan kenyataannya, operator sekolah justru ada di sekolah tersebut. Hal ini semakin menambah serpihan misteri pada situasi yang berlangsung.
Akhirnya, saat media mencoba mengkonfirmasi kepada Korwil Pendidikan Jorlang Hataran, bermarga Silalahi, terungkap bahwa ia telah menghubungi L. br Siallagan agar dia dan ibunya pensiunan Kepsek untuk segera menemui awak media. Namun, yang datang menemui awak media bukanlah mereka, melainkan suami dari mantan kepala sekolah yang mengaku sebagai wartawan. Kejadian ini menambah panjang daftar kejanggalan yang terjadi di sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dengan transparansi dan keadilan bagi semua.
Dengan segala kerumitan ini, publisitas mengenai situasi di SD 091477 semakin ramai diperbincangkan. Kecemasan masyarakat akan integritas dan keadilan dalam proses rekrutmen P3K mencuat, membuat banyak pihak berharap adanya transparansi dan evaluasi menyeluruh terhadap penerimaan pegawai di dunia pendidikan. Apakah ini hanya sebuah kebetulan, atau ada permainan politik di balik layar? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. (Tim)